Kepergianmu kali ini lucu sekali, karena aku sendiri heran mengapa taklagi menahan. Ternyata benar, mengenalmu sekian lama, sesuatu yang baru akhirnya aku pelajari, bahwa ada hal yang lebih penting dari ego sendiri.
Maka dari itu, kebahagiaanmu harus utuh. Tidak boleh ada tetapi dan apabila. Apalagi kenapa dan harusnya. — Kurang lebih, begitu inginku yang paling baru.